Showing posts with label Aceh. Show all posts
Showing posts with label Aceh. Show all posts
Tuesday, January 11, 2011
Kuah blang… mungkin banyak yang pernah mendengar atau sering mencicipi kuliner yang satu ini. Kuah Blang merupakan masakan khas daerah Banda Aceh dan Aceh Besar, biasa disajikan pada saat acara kenduri (selamatan) menjelang musim tanam. Namun sekarang ini kuah blang sudah umum disajikan di setiap acara atau hajatan.
Berbeda dengan penyajian kari pada umumnya, kuah blang mempunyai citarasa tersendiri. Kebetulan med baru dapat resep kuah blang ni, belum pernah nyoba sendiri seh tapi bagi yang berminat mencoba…. silahkan…. Smile
Alat dan Bahan :
  • Bumbu :
Bawang Putih                  : 4 siung
Cabe Merah                   : 6 buah
Cabe Kering                   : 10 buah
Kunyit Hidup                  : se-ibu jari
Kunyit Kering                 : 2 sendok
Ketumbar Masak halus   : 6 sendok makan
Ketumbar Mentah halus  : 4 sendok makan 
Kelapa Gonseng             : 1/2 ons (*uneulheuh dalam bahasa aceh*)
Merica                            : 1/2 sendok makan dihaluskan.
  • Bahan
Daging kelas 2        : 1 kg  (*gak ngerti juga klasifikasinya gimanaI don't know smile)
Bawang Merah       : 1 ons 
Kelapa                   : 1/4 buah
Asam Jawa            : 3 sendok makan (*dalam bentuk cair )
Serai                      : 2 batang
Jahe                       : se-ibu jari
Lengkuas               : seiris

Daun Temurui        : secukupnya (*daun kari kalo gak salahI don't know smile)
Garam                   : secukupnya
Pisang/Nangka      : secukupnya


  • Cara Buat :
Haluskan bumbu lalu campur dengan daging agar bumbunya meresap tambahkan garam secukupnya. Kelapa digiling kasar, bawang merah di rajang, lengkuas dan jahe di ketok hingga pecah. Kemudian Bahan dicampur dengan daging yang telah dilumuri bumbu kecuali bawang merah yang telah dirajang, tambah air secukupnya lalu di masak hingga matang. Pada saat kuah mulai mendidih, masukkan bawang merah yang telah di rajang kemudian saat menjelang matang tambahkan pisang/Nangka sesuai selera.
Untuk gambarnya menyusul ya… gak punya fotonya seh…. Embarrassed smile
Selamat Mencoba…… Smile
recipe from Mr. Ramlan
READ MORE - Resep Kuah Blang
Monday, January 04, 2010

logo-restaurant Mungkin mendata resep-resep masakan bisa berguna bagi sebagian orang. Ini yang mendasari ide untuk menuliskan beberapa resep untuk dijadikan dokumentasi online di dunia maya. Mungkin ada ibu-ibu rumah tangga, bahkan bapak rumah tangga yang jauh disana yang ingin mencoba citarasa kuliner asli dari kampung halaman.

 

Jadi… langsung ke pokok permasalahan.. kali ini med tuliskan resep membuat ikan tumis aceh. Resep ini untuk takaran 1 kg ikan.

Alat dan bahan yang kita perlukan adalah :

  • Bumbu :
  1. Cabe merah ½ ons .
  2. Jahe 1 ruas jari.
  3. Ketumbar 2 sendok makan.
  4. Jintan Ikan ½ sendok teh.
  5. Jintan Manis ½ sendok teh.
  6. Bawang Merah 5 siung.
  7. Bawang Putih 3 siung.
  8. Kunyit 1 ruas jari kelingking.
  9. Lada ½ sendok teh.
  10. Cabe Rawit ¼ ons.
  11. Asam sunti 1 ons (bahasa indonesia asam sunti apa ya?)
  12. Kemiri 3 butir.
  • Bahan :
  1. Ikan 1 kg (bisa jenis apa aja).
  2. Bawang merah 2 siung, dirajang.
  3. Cengkeh 3 butir.
  4. Cengkeh india 2 butir (kalo di aceh disebut bungong lawang kleng).
  5. Daun kari/Daun temurui.
  6. Sere 1 batang.
  7. Minyak makan secukupnya.
  8. Garam secukupnya.
  9. Jeruk nipis 1 buah.
  10. Cabe hijau 5 biji.
  11. Air secukupnya.
  • Cara Membuatnya :
  1. Bersihkan ikan dan potong-potong, kemudian taburi dengan garam dan jeruk nipis.
  2. Haluskan semua bumbu dengan blender.
  3. Lumuri Ikan dengan bumbu yang sudah kita siapkan tadi.
  4. Tumis daun kari, bawang merah rajang, sere, cengkeh dan cengkeh india sampai tercium aroma kari.
  5. Masukkan ikan yang telah dilumuri bumbu.
  6. Tunggu hingga matang, bisa ditambahkan cabe hijau sesuai selera.
  7. Bila dirasa kuah terlalu kental bisa ditambahkan air secukupnya.
  8. Selesai.

Mudah bukan ? Iya.. mudah nulis dan bacanya.. tapi kalo buatnya…… hehehehe… gak tau juga.

Sepertinya perlu pengalaman untuk menjadi koki yang handal, pengalaman itu ada kalo kita ingin terus mencoba… So.. Start trying...

Sumber : H. Jamaluddin Hamid

 

 

Semoga Bermanfaat.

READ MORE - Resep Ikan Tumis Aceh
Wednesday, April 08, 2009

Menurut penelitian para ahli sejarah, diketahui bahwa sebelum datangnya Islam pada awal abad ke 7 M, Dunia Arab dengan Dunia Melayu-Sumatra sudah menjalin hubungan dagang yang erat sejak 2000 tahun SM atau 4000 tahun lalu. Hal ini sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan, Parsia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera.

Letak geografis daerah Aceh sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan persinggahan yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik pelayaran berikutnya dari Cina menuju Persia ataupun Arab dengan menempuh samudra luas. Salah satu kota perdagangan pada jalur tersebut adalah Jeumpa dengan komuditas unggulan seperti kafur, yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan.


Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah kerajaan yang benar keberadaannya pada sekitar abad ke 7 Masehi yang terletak di sekitar daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet.

Masa itu desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke "Pintou Rayeuk" (pintu besar).


Menurut legenda yang berkembang di sekitar Jeumpa, sebelum kedatangan Islam di daerah ini sudah berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah dan negeri ini sudah dikenal di seluruh penjuru dan mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan lainnya. Sekitar awal abad ke 8 Masehi datanglah seorang pemuda tampan yang dikenal dengan Shahrianshah Salman al-Farisi atau Sasaniah Salman Al-Farisi sebagaimana disebut dalam Silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao dan juga disebutkan dalam Silsilah Raja-Raja Aceh Darussalam oleh Dinas Kebudayaan NAD. Sebagian ahli sejarah menghubungkan silsilah Pangeran Salman dengan keturunan dari Sayyidina Hussein ra cucunda Nabi Muhammad Rasulullah saw yang telah menikah dengan Puteri Maharaja Parsia bernama Syahribanun. Dari perkawinan inilah kemudian berkembang keturunan Rasulullah yang telah menjadi Ulama, Pemimpin Spiritual dan Sultan di dunia Islam, termasuk Nusantara, baik di Aceh, Pattani, Sumatera, Malaya, Brunei sampai ke Filipina dan Kepulauan Maluku.


Dikisahkan Pangeran Salman memasuki pusat kerajaan di kawasan Blang Seupeueng dengan kapal niaga dengan segala awak, perangkat dan pengawal serta muatannya yang datang dari Parsi untuk berdagang dan utamanya berdakwah mengembangkan ajaran Islam. Dia memasuki negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala Jeumpa. Sang Pangeran sangat tertarik dengan kemakmuran, keindahan alam dan keramahan penduduknya. Selanjutnya beliau tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam yang telah menjadi anutan nenek moyangnya di Parsia. Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima ajaran Islam karena tingkah laku, sifat dan karakternya yang sopan dan sangat ramah. Apalagi beliau adalah seorang Pangeran dari negara maju Parsia yang terkenal kebesaran dan kemajuannya masa itu.


Keutamaan dan kecerdasan yang dimiliki Pangeran Salman yang tentunya telah mendapat pendidikan terbaik di Parsia negeri asalnya, sangat menarik perhatian Meurah Jeumpa dan mengangkatnya menjadi orang kepercayaan kerajaan. Karena keberhasilannya dalam menjalankan tugas-tugasnya, akhirnya Pangeran Salman dinikahkan dengan puteri Raja dan dinobatkan menjadi Raja. Setelah menjadi Raja, wilayah kekuasaannya diberikan nama dengan Kerajaan Jeumpa, sesuai dengan nama negeri asalnya di Persia yang bernama "Champia", yang artinya harum, wangi dan semerbak. Sejak saat Kerajaan Islam Jeumpa terkenal dan berkembang pesat menjadi kota perdagangan dan persinggahan bagi pedagang-pedagang Arab, Cina, India dan lainnya.

Kerajaan Jeumpa menjadi maju dan makmur sekaligus menjadi pusat penyebaran ajaran Islam di wilayah Sumatra bahkan Nusantara. Shahrianshah Sal-man al-Farisi memproklamirkan Kerajaan Islam Jeumpa pada tahun 156 H atau sekitar tahun 770 M. Maka tidak diragukan, Kerajaan Jeumpa adalah Kerajaan Islam pertama di seluruh Nusantara.


Tentu di balik kesuksesan Pangeran Salman membangun dan memimpin Kerajaan Jeumpa, didukung oleh seorang Ratu yang sangat berperan. Menurut Silsilah Sultan Melayu dan Silsilah Raja Aceh, Putro Manyang Seulodong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala adalah istri dari pangeran Salman, anak Meurah Jeumpa yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa. Putro Jeumpa inilah yang telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa, yang kelak melahirkan Kerajaan Islam di Perlak, Pasai, Pedir dan Aceh Darussalam.

Bersama suaminya, Ratu Jeumpa menjalankan kerajaannya sehingga menjadi sebuah kerajaan yang terkenal di dunia internasional dan menjadi kota persinggahan para pedagang-pedagang dari Arab, Parsia, Cina, India dan lainnya. Apalagi geografi Jeumpa sangat strategis yang berdekatan dengan Barus, Lamuri, Fansur yang lebih dahulu berkembang di ujung barat pulau Sumatra.


Di daerah yang sebagai tapak mahligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket Teungku Keujereun, ditemukan tapak bangunan istana dan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Semua ini tentu menggambarkan kemakmuran dan kemajuan dari Kerajaan Jeumpa 14 abad silam.


Ratu Manyang Seuludong bukan hanya berhasil menjadi pendamping suaminya dalam membangun Kerajaan Jeumpa, tetapi juga berhasil menjadi seorang pendidik yang baik bagi anak-anaknya yang melanjutkan perjuangannya menyebarkan dakwah ajaran Islam. Ratu dikaruniai beberapa putra putri yang dikemudian hari menjadi Raja dan Ratu yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah pengembangan Islam di Nusantara.

Anak beliau bernama Syahri Poli adalah pendiri dari Kerajaan Poli yang selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Pidier di wilayah Pidie sekarang yang wilayah kekuasaannya sampai ujung barat Sumatera. Syahri Tanti mengembangkan kerajaan yang selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Samudra-Pasai. Syahri Dito, yang melanjutkan mengembangkan Kerajaan Jeumpa. Syahri Nuwi menjadi Meurah dan pendiri dari Kerajaan Perlak. Sementara putrinya Makhdum Tansyuri adalah ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak, Maulana Abdul Aziz Syah yang diangkat pada tahun 840 Masehi.

Kecerdasan dan kecantikan Putro Jeumpa yang diwariskan kepada keturunannya menjadi lambang keagungan putri-putri Islam yang berjiwa penakluk dalam memperjuangkan tegaknya Islam di bumi Nusantara. Tidak diragukan bahwa Putro Manyang Seuludong telah menjadi inspirasi bagi perjuangan para Ratu dan putro-putro Jeumpa sesudahnya. Puteri-puteri Jeumpa telah menjadi lambang kewibawaan para Ratu Islam di istana-istana Perlak, Pasai, Malaka bahkan sampai Majapahit sekalipun.

READ MORE - sejarah aceh update : kerajaan jeumpa
Saturday, March 28, 2009
Kerajaan Aceh Darussalam telah berdiri menjelang berakhirnya abad ke-14 M (menjelang keruntuhan Samudera Pasai) dengan penguasa pertama Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada Ahad, 1 Jumadil Awal 913 H (1511 M) . Pada tahun 1524 M, Mughayat Syah berhasil menaklukkan Pasai, sehingga Aceh menjadi satu-satunya kerajaan yang memiliki pengaruh besar di kawasan tersebut. Sekitar tahun 1511 M, kerajaan-kerajaan kecil yang terdapat di Aceh dan pesisir timur Sumatera seperti Peurelak (di Aceh Timur), Pedir (di Pidie), Daya (Aceh Barat Daya) dan Aru (di Sumatera Utara) sudah berada di bawah pengaruh kolonial Portugis juga berhasil ditaklukkan. Sejak saat itu, kerajaan Aceh lebih dikenal dengan nama Aceh Darussalam dengan luas wilayah kerajaan mencakup hampir separuh wilayah pulau Sumatera, sebagian Semenanjung Malaya (Johor dan Pahang) hingga Pattani.

Kerajaan Aceh pada masa itu juga memiliki hubungan diplomatik dengan dinasti Usmani di Turki, Inggris, Belanda dan Perancis yang terjalin dengan baik. Sebelum Iskandar Muda berkuasa, sebenarnya juga telah terjalin hubungan baik dengan Ratu Elizabeth I dan penggantinya, Raja James dari Inggris. Bahkan, Ratu Elizabeth pernah mengirim utusannya, Sir James Lancaster dengan membawa seperangkat perhiasan bernilai tinggi dan surat untuk meminta izin agar Inggris diperbolehkan berlabuh dan berdagang di Aceh, dan disambut dengan baik oleh sultan Aceh.

Hingga tahun 1699 M, Aceh secara berturut-turut dipimpin oleh empat orang ratu. Di masa ini, kerajaan Aceh sudah mulai memasuki era kemundurannya. Salah satu penyebabnya adalah terjadinya konflik internal di Aceh, yang disebabkan penolakan para ulama Wujudiyah terhadap pemimpin perempuan. Para ulama Wujudiyah saat itu berpandangan bahwa, hukum Islam tidak membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin bagi laki-laki. Kemudian terjadi konspirasi antara para hartawan dan uleebalang, dan dijustifikasi oleh pendapat para ulama yang akhirnya berhasil memakzulkan Ratu Kamalat Syah.

Berikut ini adalah para sultan dan gubernur Aceh serta periode kepemimpinannya

Sultan - Sultan Aceh
1. Sultan Ali Mughayat Syah (1496 – 1528)
2. Sultan Salahuddin (1528 – 1537)
3. Sultan Alauddin Al-Qahhar (1537 – 1568)
4. Sultan Husain Ali Riayat Syah (1568 – 1575)
5. Sultan Muda (1575)
6. Sultan Sri Alam (1575 – 1576)
7. Sultan Zainal Abidin (1576 – 1577)
8. Sultan Alauddin Mansyur Syah (1577 – 1589)
9. Sultan Buyung (1589 – 1596)
10. Sultan Alauddin Riayat Syah (1596 – 1604)
11. Sultan Ali Riayat Syah (1604 – 1607)
12. Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636)
13. Sultan Iskandar Thani Ali Mughayat Syah (1636 – 1641)
14. Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641 – 1678)
15. Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675 – 1678)
16. Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah (1678 – 1688)
17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinatuddin (1688 – 1699)
18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hasyim (1699 – 1702)
19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702 – 1703)
20. Sultan Jamal al-Alam Badrul Munir (1703 – 1726)
21. Sultan Jauhar al-Alam Aminuddin (1726)
22. Sultan Syams al-Alam (1726 – 1727)
23. Sultan Alauddin Ahmad Syah (1727 – 1735)
24. Sultan Alauddin Johan Syah (1735 – 1760)
25. Sultan Mahmud Syah (1760 – 1781)
26. Sultan Badr al-Din (1781 – 1785)
27. Sultan Sulaiman Syah (1785 - .........)
28. Alauddin Muhammad Daud Syah (........ – 1795)
29. Sultan Alauddin Jauhar al-Alam (1795 – 1815)
30. Sultan Syarif Saiful Alam (1815 – 1818)
31. Sultan Alauddin Jauhar al-Alam (1818 – 1824)
32. Sultan Muhammad Syah (1826 – 1838)
33. Sultan Sulaiman Syah (1838 – 1857)
34. Sultan Mansyur Syah (1857 – 1870)
35. Sultan Muhammad Syah (1870 – 1874)
36. Sultan Muhammad Daud Syah (1874 – 1903)

Gubernur - Gubernur Aceh
1. Teuku Nyak Arief (1945 – 1946)
2. Teuku Daud Syah (1947 – 1948)
3. Teungku Daud Beureueh (1948 – 1951)
4. Danu Broto (1951 – 1952)
5. Teungku Sulaiman Daud (1952 – 1953)
6. Abdul Wahab (1953 – 1955)
7. Abdul Razak (1955 – 1956)
8. Prof. Ali Hasymi (1957 – 1964)
9. Nyak Adam Kamil (1864 – 1966)
10. H. Hasbi Wahidi (1966 – 1967)
11. A. Muzakir Walad (1967 – 1978)
12. Prof. Dr. A. Madjid Ibrahim (1978 – 1981)
13. H. Eddy Sabhara (pjs 1981)
14. H. Hadi Thayeb (1981 – 1986)
15. Prof. Dr. Ibrahim Hasan (1986 – 1993)
16. Prof. Dr. Syamsuddin Mahmud (1993 – 2000)
17. Ramli Ridwan (Pj. 21 Juni 2000 – Nov 2000)
18. Abdullah Puteh (2000 – 2004)
19. Azwar Abubakar (pj. 2004 – 2005)
20. Mustafa Abubakar (2005 – 2007)
21. Irwandi Yusuf (2007 – Sekarang)

READ MORE - Periode Kesultanan Aceh Darussalam